Dakwah Multikultural & Komunikasi Lintas Budaya
Ragam Budaya dalam Dakwah dan Komunikasi
Abstrak
Menjalankan
aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara tersendiri.
Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu pihak yang berbeda dapat
menjadikan dakwah diterima oleh masyarakat yang heterogen. Tulisan ini mengkaji
tentang cara yang digunakan dalam melakukan dakwah pada masyarakat yang
berbeda-beda.
Kata
Kunci : Dakwah,
Komunikasi, Multikultural
PENDAHULUAN
Negara
Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dari berbagai ragam kelompok suku, etnis,
budaya, bahasa, agama dan lain-lain. Dengan keragaman tersebut maka bangsa
Indonesia dapat dikatakan sebagai bangsa yang mempunyai
"multikultural". Di sisi lain, kenyataan bahwa masyarakat Indonesia
yang multikultural tersebut dihadapkan pada kebutuhan yang mendesak untuk
merekonstruksi kembali "kebudayaan nasional Indonesia" yang diharapkan dapat menjadi "integrating
force" yang mampu mengikat keragaman menjadi sebuah kesatuan yang
kokoh.
Multikultural
sendiri bisa dilihat dari penyampaian pesan-pesan agama atau dakwah
meniscayakan seorang da’i memahami keanekaragaman kultural masyarakat dan
bersikap positif terhadap keanekaragaman tersebut. Berdakwah secara
multikultural berarti berupaya menciptakan keharmonisan di tengah-tengah
masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi
terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disetarakan.
Dalam berdakwah diperlukan pula komunikasi lintas budaya untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan melakukan komunikasi lintas budaya seorang da’i dapat menyampaikan dakwah yang dengan adanya perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya.
DEFINISI
Dakwah
Multikultural
Nusantara adalah tempat bernaung,
keluar masuk, dan bertemunya berbagai tradisi: Timur dan Barat. Tradisi lokal
yang beragam (1.500 pulau, 300 bahasa lokal, 700 dialek bahasa dari berbagai
etnis), agama yang banyak jumlahnya (Hindu dan Budha dari India, Islam dan
Kristen (Semitik), Eropa yang lama menjajah negeri ini, dan sekarang ini
memasuki globalisasi dengan budaya tersendiri. Berbagai masa di Indonesia juga
ditandai dengan berbagai perubahan dan mungkin juga kekacauan (kaliyuga); masa
damai digambarkan dengan Syiwa Mahadewa sebagai mahadewa tenang seperti di
Medang Mataram; dan masa penuh peperangan digambarkan dengan Syiwa. Mahakala
ketika keadaan sedang kroddha dan seram, seperti Sukarno dalam gegap gempita
retorika dalam pidatonya.harmonisasi berbagai tradisi menjadikan kreatifnya
tradisi dan kelahiran berbagai temuan baru, seperti Syiwaisme dan Trantayana
zaman kuno. Masa Islam juga ditandai dengan berbaurnya sufisme dan tradisi
lokal seperti ketika Hamzah Fansuri meramu dan menggabungkan Melayu dan Arab.
Huruf pegon Arab merupakan tradisi dari bahasa Sansekerta, Melayu dan kuno, dan
Arab dalam gubahan baru. Dalam aturan pegon, huruf disesuaikan dengan bunyi
lidah Nusantara.[1]
Mengutip pendapatnya Nur Cholish
Madjid, dakwah dalam sekup agama merupakan sarana penyebarluasan dan
sosialisasi. Kemerdekaan beragama hendaklah dipahami dan menjadi pegangan erat
bagi juru dakwah. Mengingat pluralisme agama yang ada. Agama adalah suatu
petunjuk (hidayah), tak seorangpun yang mampu memberi ataupun memaksa. Dakwah
hanya terbatas pada media informatif. Kita hanya ingin mencoba bahwa agama
adalah pesan. (al-din-u al-nashihah). Sampai di sini dakwah memiliki
keterbatasan (untuk tidak mengatakan kelemahan), agar manusia berendah diri dan
jauh dari kesombongan.[2]
Dari sini, dakwah multikultural
sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengakuan
doktrinal Islam terhadap keabsahan eksistensi kultur dan kearifan lokal yang
tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja dakwah multikultural
berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan cakupan kulturnya.
Kalau dakwah paradigma kultural hanya fokus pada persoalan bagaimana persoalan
Islam dapat disampaikan lewat kompromi dengan budaya tertentu, maka dakwah
multikultural memikirkan bagaimana pesan Islam ini disampaikan dalam situasi
masyarakat yang plural, tanpa melibatkan unsur “monisme moral” yang bisa
merusak pluralitas budaya dan keyakinan itu sendiri.[3]
Komunikasi
Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya adalah
proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya.
Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa (international),
antaretnik (interethnical), kelompok ras (interracial), atau
komunikasi bahasa (intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya. Menurut
Liliweri, dalam bukunya
yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi
antarbudaya atau komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi
yang paling efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang
budayanya.[4]
Komunikasi lintas budaya memiliki fungsi penting, terutama ketika seseorang mulai menjalin hubungan bilateral, trilateral, atau multilateral. Secara khusus, komunikasi lintas budaya berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian komunikasi antarorang, antarsuku, dan antar bangsa yang berbeda budayanya. Ketika memasuki wilayah (daerah) orang lain, seseorang dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda, ditinjau dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan status lainnya.
RUANG LINGKUP
Dakwah
multikultural
Dakwah multikultural merupakan
proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah)
dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi
pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap
terpeliharanya situasi damai.[5]
Wilayah yang memiliki masyarakat multikultur dan multietnis mempunyai tantangan
untuk mengakomodasi perbedaan kebangsaan dan etnis secara stabil dan dapat
dipertahankan secara moral. Tantangan multikultur ini juga menjadi tantangan
dalam aktivitas dakwah Islam dengan cara mengubah dan menata kembali cara-cara
serta orientasi dakwah. Dakwah adalah seruan, ajakan, atau perubahan.[6]
Kegiatan dakwah di masyarakat, dan
di media massa selama ini, relatif telah responsif, terhadap kondisi masyarakat
yang modern. Setidaknya telah berupaya agar pesan-pesan keagamaan yang
disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan berbagai metode
dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah substansi dakwah
telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan atau keperbedaan kultur di
masyarakat; Apakah kebijakan dakwah multikultur telah terformulasi dengan baik.
Demikian juga para da’i sebagai narasumber atau aktor, supaya mempunyai
kemampuan meramu kemajemukan tersebut dengan memperhatikan; isi atau
pesan-pesan yang disampaikan, metode penyampaian, narasumber atau da’i yang
berperan serta media yang digunakan.[7]
Komunikasi
Lintas Budaya
Dalam memenuhi kebutuhan hidup kita
tidak mungkin terlepas dari proses komunikasi, baik hablum minallah (komunikasi
dengan sang kuasa Allah) atau disebut komunikasi vertikal, hablumminannas
(komunikasi sesama manusia) atau disebut komunikasi verikal. Sudah menjadi
hakikatnya bahwa eksistensi kita tidaklah satu (homogen), jadi siapapun
kita dimanapun akan berhadapan dengan esistensi & fenomena heterogenitas
(baik etnis, bahasa, budaya, pola pikir dll).[8]
Tidak dipungkiri bahwa dengan adanya
kemajuan teknologi dan transportasi yang ada saat ini telah memungkinkan
manusia di berbagai penjuru dunia saling mengenal dan berhubungan erat tidak
sekedar tetangga antar desa atau antar pulau. Jika kita memahami karakter dan
teori-teori komunikasi maka kita akan survive dalam mengahadapi universalisasi
& teknonolgi komunikasi yang berkembang khususnya Komunikasi lintas budaya.
KESIMPULAN
Dakwah
multikultural berarti sebuah upaya dalam menciptakan keharmonisan di
tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan
bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disamakan
dalam berbagai aspeknya. Sedangkan dakwah dengan pendekatan multikulturalisme
adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam
dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu
atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat
untuk hal-hal yang tidak dapat disepakati.
Sama
hal nya dengan komunikasi lintas budaya menegaskan bahwa fakta umat manusia
yang beragam dan berbeda satu sama lain merupakan kehendak sekaligus sunatullah
bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Dengan kesadaran tentang adanya keragaman
dan perbedaan itu, umat manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebajikan,
sehingga akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas kehidupan umat
manusia dalam berbagai aspeknya demi kemaslahatan hidup bersama.
DAFTAR
PUSTAKA
Makin, Al Keragaman dan Perbedaan Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia, Yogyakarta: Suka Press, 2016.
Basit, Abdul. Filsafat Dakwah, Jakarta:
Rajawali Pers, 2013.
Ma‘arif, Ahmad Syafi‘i, Membumikan
Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Tilaar, Kaleidoskop Pendidikan
Nasional, Jakarta: Kompas, 2012.
Awaludin Pimay, Wafiah. Sejarah Dakwah, Semarang: Rosail, 2005.
A. Ilyas Ismail Prio Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban
Islam, Jakarta: Kencana, 2011.
Wahid, Abdurrahman, dkk., Islam Nusantara, Bandung: Mizan, 2015.
Munir, & Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, Jakarta: Prenada Group, 2006.
[1] Al. Makin, Keragaman dan
Perbedaan Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia, (Yogyakarta: Suka
Press,
2016), 246.
[2] Ma‘arif, Ahmad Syafi‘i, Membumikan
Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), 99.
[3] Tilaar, Kaleidoskop Pendidikan
Nasional (Jakarta: Kompas, 2012), 298.
[4] Mohammad Shoelhi,Komunikasi
Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015), .2.
[5] Munir, & Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah,
(Jakarta: Prenada Group, 2006), 67.
[6] Abdul Basit Filsafat Dakwah, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2013), 178.
[7] Wafiah Awaludin Pimay, Sejarah
Dakwah. (Semarang: Rosail, 2005), 45.
[8] Abdurrahman, dkk., Islam Nusantara, (Bandung:
Mizan, 2015), 87.
Komentar
Posting Komentar