Pengumpulan Al-Quran di Masa Utsman Bin Affan


Pengumpulan Al-Quran di Masa Utsman Bin Affan






DOSEN PENGAMPU: 
Prof. Dr. MOH. ALI AZIZ. M.Ag

ASISTEN DOSEN: 
ATI’ NURSYAFA’ M.Kom


DISUSUN OLEH:
RISMA AZZAH FATIN
NIM: B01219047


PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
PROGRAM SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019






















 

KATA PENGANTAR


            Beribu ribu rasa syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini pada waktu yang telah ditentukan. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW serta kepada seluruh sahabatnya.
           
            Sebagaimana mestinya makalah ini saya buat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah studi al-Qur’an. Sebagaimana kita tahu bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci umat islam yang disetiap ayat maupun suratnya memiliki makna. Karena dalam makalah ini akan dibahas penurunan al-Qur’an pada masa Utsman bin Affan

            Terima kasih saya ucapkan kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag selaku dosen mata kuliah studi al-Qur’an dan Bu Ati’ Nursyafa’ M.Kom selaku asisten dosen, yang telah memberikan pengarahan dan penyusunan makalah ini.

            Saya sadar akan kekurangan dalam makalah ini. saya harap kritik dan saran yang membangun dari anda sekalian demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini memiliki manfaat bagi anda semua.


Surabaya, 01 September 2019



Risma Azzah Fatin


















DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.. ii
BAB I. 1
A. Latar Belakang. 1
1. Ide Pengumpulan Al-Quran. 2
2. Dibentuknya Panitia. 5
3. Pengumpulan Al-Quran. 7
BAB II. 14
A.PEMBAHASAN.. 14
1. Pengumpulan Al-Quran oleh Abu Bakar As- Shiddiq  15
2. Pengumpulan Al-Quran oleh Utsman bin Affan  15
BAB III. 18
KESIMPULAN.. 18
DAFTAR PUSTAKA.. 19
















BAB IPengumpulan Al-Quran di Masa Utsman Bin Affan

A. Latar Belakang

Pada masa Abu Bakar As-shiddiq. Terjadi perang yang dipimpin oleh khalid bin walid untuk memerangi Musailamah Al-Kadzab yang mengaku bahwa dirinya seorang Nabi. Peperangan yang terjadi di Yamamah itu menggugurkan 700 sahabat penghafal al-quran[1]. Karena hal ini Sahabat Nabi Umar bin Khattab meminta agar Abu Bakar As-shiddiq mengumpulkan semua mushaf al-quran karena khawatir al-quran akan hilang karena telah banyak gugurnya para penghafal al-quran. Sahabat nabi abu bakar akhirnya menyutujui apa yang yang dikatakan umar bin khattab. Maka abu bakar as-shiddiq memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-quran dan dibantu oleh Ubay bin Ka’ab, Ali Bin Abi Thallib dan Utsman Bin Affan[2]. Pengumpulan dan penyimpanan Shuhuf Shuhuf AL-quran itu dipegang oleh Umar bin Khattab. Setelah Umar bin Khattab wafat maka shuhuf shuhuf itu dipegang oleh Hafshah karena anak dari Umar bin Khattab dan Istri Rasulullah.
Masa pemerintahan Utsman bin affan adalah yang terpanjang dari semua khalifah di zaman Khulafaur ar-Rayidin yaitu 12 tahun. Sejarawan membagi masa pemerintahan utsman menjadi 2 periode, enam tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik dan 6 tahun terakhir masa pemerintahan yang buruk. Sahabat nabi Utsman bin affan melakukan perluasan wilayah kekuasaan islam. Daerah daerah strategis yanng sudah dikuasai islam seperti mesir dan irak terus dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencana secara cermat dan simutan di semua front.


1. Ide Pengumpulan Al-Quran


Semakin meluasnya daerah kekuasaan islam pada masa Utsman membuat perbedaan yang cukup mendasar dibandinngkan dengan pada masa abu bakar. Latar belakang pengumpulan al-quran di masa Utsman RA adalah karena beberapa faktor lain berbeda dengan faktor yang ada pada masa abu bakar. Masa pemerinthan utsman kekuasaan islam telah meluas dan orang islam banyak yang terpencar diberbagai daerah dan kota. Disetiap daerah telah banyak yang mengetahui bacaan sahabat yang mengajar mereka[3].
Penduduk Syam membaca Al-Quran mengikuti bacaan Ubay Ibnu Ka’ab, penduduk Kufah mengikuti bacaan Abdullah Ibnu Mas’ud, dan sebagaian yang lain mengikuti bacaan Abu Musa Mas’ud dan sebagaian yang lain mengikuti bacaan Abu Musa al-Asy’ari.
Pada Masa Pemerintahan Utsman Bin Affan terjadi banyak pertentangan pada para sahabat dan masyarakat lain dikarenakan pada masa ini perbedaan bacaan pada mushaf al-qur an diberbagai kalangan terutama pada kalangan prajurit perselisihan ini dikhawatirkan akan merusan persatuan. Karenanya, permasalahan ini harus dilaporkan kepada khalifah yang baru, ‘Utsman bin Affan’ RA Anas bin Malik RA, Salah satu seorang sahabat senior yang berada di Madinah, Menceritakan peristiawa tersebut kepada Ibnu Syihah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Hadits ini menjelaskan tentang penggandaan mushaf yang disalin dari lembaran lembaran al-Quran. Dalam hal ini, Perlu dibedakakn antara al-shuhuf (lembaran lembaran al-quran) dan al-mushaf (al-quran yang sudah dibukukan menjadi satu kitab). Lembaran al-quran adalah tulisan al-quran diatas lembaran lembaran kertas yang bellum terjilid dimasa pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq. Dalam lembaran ini. Penulisan Al-Quran disesuuaikan dengan urutan ayat. Sementara mushaf adalah tulisan Al-Quran diatas kertas kertas yang kemudian dijilid menjadi sebuah buku. Di dalamnya tertulis berdasarkan urutan ayat dan surat [4].
Utsman kemudian mengirim utusan kepada Hafshah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya), dan Hafshsh pun mengirimkan lembaran lembaran itu kepadanya. Kemudian Utsman memanggil Zid bin Tsabit Al-Anshari, Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam (tiga orang quraisy). Mereka semua dari suku Quraisy golongan muhajirin kecuali Zaid Ibnu Tsabit, dimana ia adalah dari kaum Anshar. Adapun Pelaksanaan gagasan yang mulia ini adalah pada tahun kedua puluh empat hijrah[5] Utsman berkata kepada mereka yaitu:
 “Bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit tentag sesuatu dari al-Qur’an, maka tulislah dengan logat Quraisy, karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Quraisy.”
Tugas panitia ini adalah membukukan al-Qur’an, yakni menyalin lembaran-lembaran tersebut menjadi buku. Dalam pelaksanaan tugas ini Utsman menasihatkan supaya.
a.   Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal al-Qur’an.
b.  Kalau ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan) maka haruslah dituliskan menurut dialek suku Quraisy, sebab al-Qur’an itu diturunkan menurut dialek mereka.
Maka dikerjakanlah oleh panitia sebagai yang ditugaskan kepada mereka, dan setelah tugas itu selesai, maka lembaran-lembaran al-Qur’an yang dipinjam dari Hafshah itu dikembalikan kepadanya. Selanjutnya Utsman mengirim ke setiap wilayah mushhaf baru tersebut  dan memerintahkan agar semua al-Qur’an atau mushhaf lainnya dibakar. Zaid berkata: “ketika kami menyalin mushhaf saya teringat akan satu ayat dari surat al-Ahzab yang pernah aku dengar dibacakan oleh Rasulullah, maka kami mencarinya dan kami dapatkan pada Khuzaimah bin Sabit al-Anshari, ayat itu adalah[6]
 “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah”
Jika ada perbeadaan antara Zaid dengan dengan ketiga orang quraisy itu, Hendaklah ditulis dalam Quraisy, Karena Al-Quran turun dalam dialek bahasa mereka.

2. Dibentuknya Panitia


“ Khudzaifah bin al-Yaman datang kepada Khalifah ‘Utsman. Khudzaifah adalah kepala prajurit yang mengempur penduduk syam bersama masyarakat irak dalam rangka membebaskan daerah Armenia dan Azerbaijan. Ternyata perselisihan diantara para prajurit mengenai bacaan al-quran telah membuat Khudzaifah terkejut. Karena khudzaifah melaporkan kepada Khalifah Utsman untuk mengambil keputusan agar umat islam ini berselisih mengenai kitab suci mereka seperti umat umat sebelumnya Yahudi dan Nasrani[7]. Usul tersebut dapat diterima oleh khalifah Utsman bin Affan. Kemudian dibentuklah panitia yang terdiri dari empat orang yaitu Zaid bin thabit, Sa”id bin Ash, Abdullah bin Zubair dan Abd ar-Rahman bin Hairith bin Hisyam. Panitia itu diketuai oleh Zaid bin hisyam dengan tugas menyalin mushaf al-qur an yang disimpan hafsah. Ketiga orang panitia itu selalin adalah orang quraisy. Maka dikerjakanlah oleh panitia yang ditugaskan kepada mereka. Dan setelah tugas itu selesai. Maka lembaran al-quran yang dipinjam dari hafshah itu dikembalikan kepadanya. Memerintahkan agar semua al-quran atau mushaf lainnya dibakar.
Selanjutnya Utsman mengirimkan setiap mushaf hasil salinan empat orang sahabat ke setiap penjuru daerah. Lembaran yang telah dibakar  karena kitab al-quran yang dibakar itu kitab yang telah berbeda dari mushaf al-quran yang telah ditetapkan. Proses penyalinan Al-quran hanya dari lembaran ke buku. Pekerjaannya hanya penggandaan. Namun ada yang mengatakan bahwa Zaid bin Tsabit RA dibantu oleh segenap tim melaksanakan pekerjaan pengumpulan catatan al-Quran secara kolosal. Dalam kata lain tim menemukan satu ayat yang terlewat dalam surah al-ahzab. Jika pekerjaan penyalinan lembaran wahyu dari Hafshah dan penggandaan, tentu ayat yang terlewat tersebut tidak ada. Sebuah hadits mengatakan adanya proses pengumpulan ulang catatan catatan al-quran. Apa yang telah dilakukan oleh Zaid bin Tsabit pada masa pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq diulangi oleh khalifah Utsman bin Affan. Hanya saja, keterlibatan masyarakat di masa khalifah Utsman bin Affan jauh lebih besar. Ini merupakan pekerjaan kolosal yaitu dikerjakan oleh banyak orang . Tim pekerjaan kolosal ini terdiri dari 12 orang[8].
Selain keempat shabaat yang bergabung ada beberapa sahabat yang lain yang membantu antara lain: Nafi’ bin Zubair hin Amr bin Naufal, Ubay bin K’ab, Katsir bin Aflah, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Malik bin Abi Amr, Abdullah bin Umar bin Abdullah nin Amr bin Al Ash. Dalam pekerjaan yang dibantu oleh 12 anggota tersebut menambahkan satu mushaf (kitab) al-quran yang standar. Zaid bin Tsabit RA yang bertugas sebagai penguji menemukan satu ayat dalam surat al-ahzab yang tertinggal. Kemudian Zaid bin Tsabit pun mencatat dalam mushaf al-quran dengan lengkapnya Mushaf al-quran, Zaid bersama tim lainnya membandingkannya dengan lembaran yang dibawa Hafshah ternyata keduanya sama. Ini membuktikan ternyata pengumpulan mushaf al-quran membuahkan hasil.
           

3. Pengumpulan Al-Quran

            Dengan ditugaskannya empat orang sahabat pilihan tersebut, maka hal itu merupakan sebuah langkah konkret untuk mengatasi kenyataan pahit yang terjadi. Apabila masa masa dua khlifah sebelumnya, “Mushaf Abu Bakar” hanya dismipan dirmuah, maka Utsman melihat perlunya memasyaratkan mushaf itu.
            Langkah Utsman memang lebih tepat dianggap memasyaratkan Mushaf Abu Bakar sekaligus menyatukan bacaan. Alasannya yaitu karena Utsman tetap menyertakan Zaid bin Tsabit di dalam panitia. Zaid yang sejak zaman Rasulullah dan Abu Bakar terlibat langsung dalam penulisan dan penghimpunan al-Quran, dapat diartikan di dalam panitia itu lebih bnyak berperan ketimbang tiga anggota panitia lainnya. Sehingga kemungkinan terjadinya perubahan, penambahan atau hilangnya kalimat tertentu dapat ditekan sampai pada titik nol dan keaslian al-quaran tetap terjamin.
            Zaid pun juga mengumpulkan bahan al-quran yang terdapat pada daun kering, dan hafalan para sahabat Rasulullah. Caranya adalah dia mendengarkan dari orang orang yang hafal, kemudian dicocokannya dengan yang telah dituliskan pada bahan bahan tersebut. Dia tidak mencukupkan dari sumber yang didengarnya saja, tapi juga mencocokan kepada yang ditulis.
            Dia hanya menerima catatan yang mempunyai dua syahid, yaitu dua saksi. Cara itu lebih menjamin daripada hanya hafalan belaka. Disamping itu Zaid sendiri termasuk orang yang hafal Al-Quran. Ketentuan dua saksi ini ditetapkan berdasarkan keputusan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, dalam pesannya kepada Zaid bin tssabit dan Umar, Abu Bakar Mengatakan
 Duduklah kalian dipintu masjid. Siapa saja yang datng kepada kalian membawa catatan al-quran dengan dua saksi maka catatlah”
            Menurut tokoh hadist yang dimaksud dua saksi atau syahidin disini tidak harus keduannya dalam bentuk hafalan. Atau keduanya dalam bentuk tulisan. Sahabt tertentu yang membawa ayat tertentu itu. Sudah diterima ayat nya apabila ayat yang disodorkan kepada tim didukung oleh dua hafalan dan atau tulisan sahabat lainnya. Demikian juga suatu hafalan ayat tertentu yang dibawa oleh sahabat tertentu mengenai ayat tertentu seorang sahabat sudah dapat diterima bila memeiliki dua saksi yang memberikan kesaksian bahwa catatan itu memang ditulis dihadapan Rasulullah[9].
            Setelah sudah banyaknya al-quran terkumpul Utsman memerintahkan mengumpulkan semua lembaran lembaran yang bertuliskan al-quran yang ditulis itu untuk membakarnya. Ia khawatir kalau mushaf yang bukan salinan”Empat Panitia” itu beredar. Padahal pada mushaf mushaf yang peredarannyadikhawatirkan itu terdapat kalimat yang bukan al-quran. Karena merupakan catatan khusus sahabat sahabat tertentu. Disitu terdapat juga beberapa kalimat yang merupakan tafsiran dan bukan kalam Allah.
            Utsman mengatakan kepada mereka: “Bila anda sekalian ada perselisihan pendapat tentang bacaan, maka tulislah berdasarkan bahasa quraisy, karena al-quran diturunkan dengan bhaasa quraisy”. Utsman meminta kepada hafshah binti Umar agar ia belajar menyerahkan mushaf yang ada padanya. Sebagai hasil dari jasa yang telah dikumpulkan Abu Bakar, untuk ditulis dan diperbanyak. Setelah selesai akan dikembalikan lagi, Hafshsh pun mengabulkanya.
             Umar bin Shabba meriwayatkan melalui Sawwar bin Shahib: saya masuk kelompok kecil untuk bertemu dengan Ibn az-zubair, lalu saya menanyakan kepadanya kenapa utsman memusnahkan semua naskah kumo al-quran?. Dia menjawab “pada zaman pemerintahan Umar ada pembualbicara yang telah mendekati khalifah memberitahukan kepadanya bahwa orng orang telang berbeda dalam membaca al-quran. Umar menyelesaikan masalah ini dengan mengumpulkan semua salinan naskah al-quran dan menyamakan bacaan mereka, tetapi penderitaan yang sangat fatal akibat tikaman manut sebelum beliau dapat melakukan upaya lebih lanjut. Pada zaman pemerintahan Utsman, orang yang sama datang untuk mengingatkannya masalah yang sama dimana kemudian Utsman memerintshksn untuk membuat mushaf tersendiri. Lalu dia mengutus saya menemui istri nabi muhhammad SAW. Aisah, agar mengambil kertas kulit (shuhuf) yang Nabi Muhammad SAW. sendiri telah mendiketkan keseluruhan al-quran. Mushaf yang dikumpulkan secara independent kemudian dibandingkan dengan suhuf ini, dan setelah kemudian dibandingkan dengan shuhuf ini dan juga telah mengkoreksi semua nya terdapat kesalahan kesalahan yang ad, kemudia ia menyuruh agar semua salinan naskah al-quran itu dimusnahkan.
            Walaupun riwayat ini dianggap lemah menurut ukuran pada ahli hadist, tapi ada gunanya dalam menyebutkan riwayat ini menerangkan pengambilan shuhuf yang ada dibawah ini bagaimanapun menguatkan riwayat riwayat sebelumnya. Ibn Shabba meriwayatkan dari Hrun bin Umar, yang mengautkan bahwa: “ketiak utsman hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta aisah agar mengirimkannya kepada kertas kulit (shuhuf) yang dibicarakan Nabi Muhammad SAW yang telah disimpan dirumahnya. Kemudia dia menyuruh Zaid bin Tsabit membetulkan sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibuk dan ingin mencurahkan waktunya mengurus masyarakat dan membaut ketentuan hukum sesama mereka[10].
            Maka dari mushhaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum muslimin di seluruh pelosok menyalin al-Qur’an itu. Adapun kelainan bacaan, sampai sekarang masih ada karena bacaan-bacaan yang dirawikan dengan mutawatir dari Nabi terus dipakai oleh kaum muslimin dan bacaan-bacaan tersebut tidaklah berlawanan dengan apa yang ditulis dalam mushhaf-mushhaf yang ditulis di masa Utsman itu.
Dengan demikian keistimewaan pembukuan al-Qur’an pada masa Utsman itu adalah:[11]
a.   Adanya penyerdahanaan dialek dari tujuh dialek menjadi satu dialek. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata: Utsman mengumpulkan manusia diatas satu dialek dari yang semula tujuh dialek, yang oleh Rasul telah dimutlakkan sebagai bacaan umatnya, ketika hal itu masih merupakan maslahah.
b.  Mengembalikan bacaan yang telah dihapus. Utsman bermaksud menyatukan mushhaf umat. Bacaanya tidak ada yang dihapus, ditulis dengan bentuk yang kokoh, dan mewajibkan umat membaca dan menghafalnya, (karena) dikhawatirkan masuknya kerusakan dan kesamaran pada generasi selanjutnya.
            Utsman memutuskan agar mushhaf-mushhaf yang beredar adalah mushhaf yang memenuhi persyaratan berikut:
a.   Harus mutawatir, tidak ditulis berdasarkan riwayat ahad.
b.  Mengabaikan ayat yang bacaannya dinasakh dan ayat tersebut tidak diyakini dibaca kembali di hadapan Nabi pada saat-saat terakhir.
c.   Kronologi surat dan ayat seperti yang dikenal sekarang ini, berbeda dengan mushhaf Abu Bakar yang susunan suratnya berbeda dengan mushhaf Utsman.
d.  Sistem penulisan yang digunakan mushhaf mampu mencakupi qira’at yang berbeda sesuai dengan lafadz-lafadz al-Qur’an ketika turun.
e.   Semua yang bukan termasuk al-Qur’an dihilangkan. Misalnya yang ditulis di mushhaf sebagian sahabat dimana mereka juga menulis makna ayat di dalam mushhaf, atau penjelasan nasikh-mansukh[12].

















BAB II

A. PEMBAHASAN


1. Perbedaan Mushaf Pengumpulan Al-Quran Pada Masa Abu Bakar dan Utsman
            Dari keterangan diatas, jelaslah bahwa pengumpulan Al-Quran Abu Bakar berbeda dengan pengumpulan Al-Quran yang dilakukan Utsman, baik dalam latar belakang (motivasi) maupun metodenya. Motivasi Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Al-Quran karena banyaknya para qurra’ yang gugur dalam peperangan. Sedangkan motivasi Utsman adalah karena banyaknya perbedaan (yang berujung pada konflik) dalam cara cara membaca Al-Quran yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan islam yang disaksikannya sendiri. Puncaknya mereka saling menyalahkan satu sama lain Perbedaan antara mushaf Abu Bakar dan Utsman adalah sebagai berikut. Pengumpulan mushaf pada masa Abu Bakar adalah bentuk pemindahan dan penulisannya al-Quran ke dalam satu mushaf dan ayat ayatnyasudah tersusun, berasal dari tulisan yang terkumpul oada kepingan kepingan batu, pelapah kurma dan kulit kulit binatang. Adapun latar belakang karena banyaknya huffaz yang gugur. Sedangkan pengumpulan mushaf pada masa Utsman adalah menyalin kembali mushaf yang telah tersusun pada masa Abu Bakar, dengan tujuan untuk dikirimkan ke seluruh negara Islam. Latar belakangnya adalah perbedaan dalam hal membaca al-Quran[13].

A. Pengumpulan Al-Quran oleh Abu Bakar As- Shiddiq

Pengumpulan Al-Quran yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan semua tulisan atau catatan Al-Quran yang semula bertebaran di kulit kulit binatang, tulang belulang, pelapah kurma, dan sebagainya. Kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf. Tulisan tulisan tersebut dikumpulkan dengan ayat ayat dan surat surat nya yang tersusun serta terbatas pada bacaan yang tidak dimansukh dan mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika Al-Quran itu diturunkan[14].

2. Pengumpulan Al-Quran oleh Utsman bin Affan

Dan Pengumpulan yanng dilakukan Utsman adalah menyalinnya dalam satu huruf diantara ketujuh huruf itu. Untuk mempersatukan kaum muaalimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa enam huruf lainnya. Dan Utsman memerintahkan untuk menyalin lembaran lembaran itu ke dalam satu mushaf dengan menertibkan dan menyusun surat suratnya dan membatasinya hanya pada bahasa Quraisy saja dengan alasan bahwa Al-Quran diturunkan dengan bahasa mereka sendiri. Sekalipun pada mulanya memang diizinkan membacanya dengan bahasa lalin selain Quraisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini sudah berakhir, karena itulah ia membatasinya hanya pada satu bahasa saja[15].
            Para ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan utsman ke berbagai daerah.
a.       Ada yang mengtakan 7 buah Mushaf. Dikirimkan ke Mekkah, Syam, Bashrah, Kufah, Yaman, Bahrain, dan Madinah. Ibnu Abi Dawud mengatakan, “Aku mendengar Abu Hatim As-Sijistani berkata, “Telah ditulis tujuh  uah mushaf, lalu dikirimkan ke Mekkah, Syam, Yaman,, Bahrain, Baashrah, Kufah dan sebuah ditahan di Madinah”
b.      Dikatakan pula yang berjumlah ada empat buah, Masing masing dikirimkan ke Irak, Syam, Mesir, Mushaf Imam atau dikirimkan ke Kufah, Bashrah, Syam dan Mushaf  Imam. Berkata Abu Amru Ad-Dani dalam Al-Muqni. “Sebagian besar ulama berpendapat bahwa ketika Utsman menulis mushaf mushaf itu. Ia membuatnya sebanyak empat buah salinan, lalu dikirimkan ke setiap daerah masing masing satu buah: ke Kufah, Bashrah, Syam, dan ditinggalkan satu buah untuk dirinya sendiri”.
c.       Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima mushaf. Menurut As-Suyuthi, pendapat inilah yang masyhur.

Adapun lembaran lembaran yang dikembalikan kepada Hafshah, tetap berada ditangannya hingga ia wafat. Setelah itu lembaran lembaran tersebut dimusnahkan, dan dikatakan pula bahwa lembaran lembaran tersebut diambil oleh Marwan bin Al-Hakam lalu dibakar.
      Mushaf-Mushaf yang ditulis oleh Utsman itu sekarang Hampir tidak ditemukan sebuah pun juga. Keterengan yang diriwiyatkan Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadha’il Al-Quran menyatakan, bahwa ia menemukan satu buah diantaranya di Masjid  Damaskus di Syam. Mushaf itu ditulis pada lembaran yang menurutnya terbuat dari kulit onta. Dan diriwayatkan pula bahwa mushaf Syam ini dibawa ke inggris setelah beberapa lama berada ditangan kaisar Rusia di perpustakaan Leningrad. Juga dikatakan pula bahwa mushaf itu terbakar di Masjid Damaskus pada tahun 1310 H[16].
      Jam’u Al-Quran (pengumpulan Alquran) oleh Utsman bin Affan ini disebut dengan Jam’u Al-Quran yang ketiga pada tahun 25 H dan al-Quran pun dituliskan pada bahasa arab[17].
















BAB III

KESIMPULAN

1.      Penghimpunan Al-Quran seluruhnya dilakukan oleh para khalifah pada awal masa Abu Bakar As-Shiddiq agar ayat ayat Al-Quran tidak hilang karena banyaknya hal hal yang terjadi seperti gugur nya para penghafal Al-Quran.
2.      Tim penulis Al-Quran diketuai oleh Zaid bin Tsabith.
3.      Penghimpunan Al-Quran pada masa Utsman Bin Affan dilakukan karena banyak qiraat yang menyangkal bacaan tersebut karena takut dipalsukan oleh sebab itu Al-Quran dilakukan pembukuannya.
4.      Ayar Ayat Al-Quran yang telah terkumpul dinamakan sebagai mushaf. Dan ditulis dari berbagai macam macam jumlah, dan telah disebarkan diberbagai daerah seperti Mekkah, Syria, Bisrah, Kufah, dan Madinah

































DAFTAR PUSTAKA


Abidin S, Zainal, Seluk Beluk al-Qur’an, Jakarta: PT Rineka Cipta

Al-Qaththan, Manna’ Khalil. Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. 2019

Amirul Hasan dan Muhammad Halabi, Ulumul al-
AS, Mudzakir Studi Ilmu Ilmu al-Qur’an

Ash Ash-Shabunny, Muhammad Ali. Pengantar Studi Islam al-Qur’an ( At-Tibyan), (Bandung: PT. Alma’rif, 1984)
Ash-Shiddieqy, TM Hasby Sejarah Dan Pengantar Ilmu al-Qur’an,Tafsir cet.VIII(Jakarta Bulan Bintang, 1980)
Aziz, Moh. Ali. Mengenal Tuntas al-Qur’an. Surabaya: Imtiyaz. 2019.
Fahd bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an – Studi Kompleksitas al-Qur’an ( Bandung: PT. Rineka Cipta )

M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Pesan Wahyu dalam kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994).

Qur’an: Studi Kompleksitas al-Qur’an (Yogyakarta: Titian Illahi Press, 1997)
Sohirin Solihi, dkk, Sejarah Teks al-Qur’an ( Jakarta: Gema Insani, 2005)
















[1] T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, Seajarah Dan Pengantar Ilmu al-Qur’an,Tafsir ,98
[2] Ibid 100
[3] Muhammad Ali Ash Ash-Shabunny, Pengantar Studi Islam al-Qur’an ( At-Tibyan), 94
[4] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas al-Qur’an , 55
[5] Muhammad Aly Ash-Shabunny, Pengantar Studi al-Qur,an (At-Tibyan), 94
[6] Mudzakir AS, Studi Ilmu Ilmu al-Qur’an, 194
[7] Syaikh Munna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, 170
[8] Zainal Abidin S, Seluk Beluk al-Qur’an, 57
[9] Fahd bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an – Studi Kompleksitas al-Qur’an, 75
[10] Sohirin Solihi, dkk, Sejarah Teks al-Qur’an, 124
[11] Amirul Hasan dan Muhammad Halabi, Ulumul al-Qur’an: Studi Kompleksitas al-Qur’an, 124
[12] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Pesan Wahyu dalam kehidupan Masyarakat, 170-172
[13] Syaikh Manna Al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, 167
[14] Ibid 166
[15] Ibid 169
[16] Ibid 169
[17] Muhammad Ali Ash-Shaabuniy, Studi Ilmu al-Qur’an,109

Komentar

  1. Alhamdulillah sudah faham sekarang okke maksih admin

    BalasHapus
  2. Subhanallah.. Keren.. Jadi agak paham tntang materinya
    #mutualisme

    BalasHapus
  3. Bagus banget materinya, semoga bermanfaat bagi yang membaca :)

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah jadi paham ya ukhtyyy

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah makalah ini sangat berguna bagi saya, semoga ilmu Yang di amalkan bermanfaat

    BalasHapus
  6. Ma syaa Allah sangat bermanfaat sekali, tetap semangat 💪 Barakallah ya ☺👍👍

    BalasHapus
  7. Tetep semangat yah, terus sebarkan ilmu yang kamu punya. Semoga kita sama sama mendapat barokah nya, aamiin

    BalasHapus
  8. Terima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃

    BalasHapus
  9. Yo op nggonmu lk gawe kok apik seh....Tek ku biasa e......

    BalasHapus
  10. Masya allah bagus dan menarik sekali materinya.semoga bermanfaat dan semakin baik kedepannya.semangatt❤

    BalasHapus
  11. Barokallah
    Sangat bermanfaat
    Mudah mudahan tambah baik kedepannya
    Sukses dan semangat selalu☺️

    BalasHapus
  12. Semoga ilmunya bermanfaat terus dan jangan lupa tetap rendah hati semangat

    BalasHapus
  13. Semoga ilmunya bermanfaat terus dan jangan lupa tetap rendah hati semangat

    BalasHapus
  14. Alhamdulillah, baik tetap semangat nggh buat kdepanya sukses slalu sobat...:)

    BalasHapus
  15. Bagus amat kaka karyanya,,
    Semanagt buat karya selanjutnya hehe
    Sukses sellu amin

    BalasHapus
  16. Sukses terus ya,semangatmu masa depan bangsa. Semoga sukses kedepannya.😃

    BalasHapus
  17. Semangat terus zah, impianmu sedang menunggumu, bismillah lancar dan sukses ya

    BalasHapus
  18. Alhamdulilah bagus banget semangat ya:)

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah bermanfaat, sukses untukmu temanku :))

    BalasHapus
  20. Indah nya bukan main,,
    Semoga lebih baik untuk karya selanjutnya kaka
    Sukses selalu ya amin :)

    BalasHapus
  21. Barokallah
    Sangat bermanfaat
    Mudah mudahan tambah baik kedepannya
    Sukses dan semangat selalu☺️

    BalasHapus
  22. Barokallah
    Sangat bermanfaat
    Mudah mudahan tambah baik kedepannya
    Sukses dan semangat selalu☺️

    BalasHapus
  23. alhamdulillah bermanfaat bgt syg, sukses kedepannya yaa semangattt trs❤

    BalasHapus
  24. Alhamdulillah, semogaa ilmunya dapat bermanfaat dan bisa membantu orang mencari informasi. Terima kasih

    BalasHapus
  25. Bagus materinya, semangat ris kuliahnya dan sukses buat kedepannya😁

    BalasHapus
  26. Bagus materinya dan sangat bermanfaat, semangat terus ris kuliahnya dan sukses buat kedepannya��

    BalasHapus
  27. Alhamdulillah,semangat risma, semoga bermanfaat untuk para pembaca

    BalasHapus
  28. Mudah dipahami materinya dan sangat bermanfaat.Semangat terus ma kuliahnya💙sukses terus jangan lupa sholat🙏

    BalasHapus
  29. Semangat terus Risma semoga Allah memberikan jalan yang terbaik buat kamu😊😊😊 semangat terus ris

    BalasHapus
  30. Tabaraka allah...semangat terus ris..materinya bagus semoga bermanfaat bagi yang membacanya 😊☺

    BalasHapus
  31. Tabaraka allah...semangat terus ris..materinya bagus semoga bermanfaat bagi yang membacanya 😊☺

    BalasHapus
  32. Mudah di pahami dan dpt ilmu baru semoga materi di atas dapat menjadi manfaat untuk kehidupan kita semua amiinn

    BalasHapus
  33. Penjelasan yg jelas mudah dipahami, makasih buat ilmu yg telah dibagikan, sukses selaluu

    BalasHapus
  34. Wes tak komen ikilo, gantian komenen blog ku

    BalasHapus
  35. sangat memberikan pelajran atas materi yangvtelah di bagikan semiga lebih semnagat lagi dalam nengerjakan setiap tugas2 yang diberikan

    BalasHapus
  36. Sangat bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi pembelajaran. Semoga penulis bisa berkarya lebih baik lagi

    BalasHapus
  37. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  38. Alhamdulillah jazakillahu Khairan ilmunya sangat bermanfaat .

    BalasHapus

  39. Bagus banget kaka karyanya...
    Semangt buat karya selanjutnya
    Sukses sellu amin

    BalasHapus
  40. Sangat bagus...
    Tingkatkan!!

    BalasHapus
  41. alhamdulillah...materi yang disampakan menambah pengetahuan saya, semoga bermanfaat bagi semua orang :))

    BalasHapus
  42. Syukur alhamdulillah semoga ilmunya bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang disekitar ya dan kedepannya bisa berkarya lebih baik lagi... Semangat

    BalasHapus
  43. Tulisan yang bagus dari penulis yang hebat. Bisa memberikan ilmu pada pembacanya. Awesome

    BalasHapus
  44. Terima kasih kakak materinya sangat bagus

    BalasHapus
  45. Masyaallah informatif sekali materinya..

    BalasHapus
  46. Terimakasih sudah berbagi. Sangat bermanfaat sekali. Tetap semangat membagikan ilmu yaa

    BalasHapus
  47. Masyaallah Bagus sekali materinya nak. Terus dan tingkatkan. Dan selalu semangat. Aaamiin

    BalasHapus
  48. Tingkatkan selalu prestasi mu nak

    BalasHapus
  49. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan. Tetap semangat dan selalu belajar yaa.

    BalasHapus
  50. Materinya mudah dipahami. Terima kasih telah membagikan ilmu nya jangan bosan bosan trus membagikan ilmu.

    BalasHapus
  51. Subhanallah. Apa yang belum kita ketahui betul tentang al qur an. Sekarang kita telah mengetahuinya. Terima kasih atas ilmu yang telah dibagikan

    BalasHapus
  52. Bermanfaat sekali untuk kita semua. Tingkatkan selalu membagikan ilmunya.

    BalasHapus
  53. Duh, penuh inspirasi banget ya nulisnya... semoga kedepannya dapat menyebarkan ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat bagi seluruh umat islam di dunia.

    BalasHapus
  54. Masyaallah .Terima kasih untuk ilmunya. Yang haus akan bagaimana proses turunnya al qur an .sekarang kita jadi lebih tau. Terima Kasih nak. Tingkatkan terus yaa.

    BalasHapus
  55. alhamdulillah, bisa membantu dalam pengerjaan tugas serta menambah wawasan
    tabarakallah💖

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNGAN DALAM KOTA

Dakwah Multikultural & Komunikasi Lintas Budaya