MENGKAJI LEBIH DALAM DAKWAH DENGAN BUDAYA

Artikel disusun oleh :

Risma Azzah Fatin (B01219048)

Abstrak

Mempelajari komunikasi lintas budaya merupakan tiket untuk kita agar mampu beradaptasi di manapun kita berada, terutama di Indonesia di mana berbagai suku dan budaya hidup berdampingan. Dengan mempelajari komunikasi lintas budaya, seseorang bisa memahami perbedaan dengan bersikap netral atau moderat. Sehingga konflik yang timbul antar budaya etnis yang berbeda tidak akan terjadi.

Lebih lanjut, mempelajari komunikasi lintas budaya dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan budaya lain. Para pendakwah harus memahami tempat, budaya, kebiasaan dan bahasa objek dakwahnya karena hal tersebut menentukan kesuksesan dakwah yang dilakukannya.

Kata kunci : Dakwah, Komunikasi Lintas Budaya

Pembahasan

            Komunikasi lintas budaya adalah, komunikasi yang dilakukan untuk segala macam budaya. Sudah diketahui bahwa di dunia ini banyak sekali ragam budaya. Kita ambil contoh Indonesia saja. Di negri ini, ratusan macam budaya berbeda. Kebanyakan kegagalan berkomunikasi adalah akibat faktor ketidak pahaman akan budaya. Sementara itu Noise yang paling berpengaruh dalam proses komunikasi adalah budaya. Komunikasi lintas budaya mencoba untuk melakukan pendekatan pendekatan dengan berbagai cara, seperti psikologis, sosiologi, kritik budaya, dialog budaya dan lain lain. Di sini komunikasi lintas budaya mencoba untuk memberikan pemahaman bersama dan mencoba untuk mengerti akan keragaman budaya di Indonesia. Dari sini akan terbentuk suatu pengertian bersama akan adanya perbedaan budaya. Komunikasi lintas budaya mencoba untuk memahami akan keragaman tersebut. Sehingga benturan-benturan kebudayaan atau disintregasi social tidak akan terjadi

            Untuk memahami interaksi antar budaya, terlebih dulu kita harus memahami komunikasi manusia. Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, apa yang dapat terjadi, akibat dari apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.

            Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu dakwah adalah pada tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Tujuan studi dari komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.Tentunya dengan terlebih dahulu kita perluas dan perdalam pemahaman kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut.[1]

Tujuan

Budaya - budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi Komunikasi antar budaya, karena kita akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu

Perbedaan - perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman - kesalahpahaman itu banyak kita temui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis. [2]

Litvin juga menguraikan beberapa tujuan komunikasi antarbudaya yang bersifat kognitif dan afektif yaitu:

1. Menyadari bias budaya sendiri.

2. Lebih peka secara budaya.

3. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan dengan orang tersebut.

4. Memangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri.

5. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang.

6. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.

7. Membantu dalam memahami kontak antarbudaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara wacana dan makna bagi para anggotnya. 

8. Membantu dalam memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antarbudaya.

9. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan dan dipahami. 

10. Ketrampilan-ketrampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural.[3]

    Menurut Toto Tasmara yang membedakan antara dakwah dan komunikasi terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau pesan-pesan yang disampaikan dari komunikator, sehingga dengan pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan dan tingkah laku yang diharapkan. Sedangkan dakwah, ciri yang membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif dan tujuannya yaitu mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

    Atas dasar ini maka dapat disimpulkan bahwa dakwah itu merupakan suatu proses komunikasi yang khas, yang dapat dibedakandari bentuk komunikasi lainnya. Lebih tepatnya, dakwah merupakan komunikasi Islam yaitu komunikasi yang bersandarkan pada ajaran Islam.

    Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.[4]

Fungsi

Komunikasi antar budaya memiliki fungsi penting, terutama ketika seseorang mulai menjalin hubungan bilateral, trilateral, atau multilateral. Secara khusus, komunikasi antar budaya berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian komunikasi antarorang, antarsuku, dan antarbangsa yang berbeda budayanya. Ketika memasuki wilayah (daerah) orang lain, seseorang dihadapkan dengan orang - orang yang sedikit atau banyak berbeda, ditinjau dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan status lainnya[5]

Dalam segi fungsi, seperti yang kita ketahui sebelumnya, ilmu dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang upaya mengajak umat manusia kepada jalan Allah, dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami, memprediksi(prediction), menjelaskan(explanation) dan mengontrol(control) berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah. adapun macam-macam fungsi sosial.

1.      Pengawasan

Fungsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi  antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada  kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi  antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan  "perkembangan" tentang  lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan  oleh  media massa  yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa  yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam  sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.

2.      Menjembatani

Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang  dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan  jembatan  atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol  melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling  menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan  makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh berbagai konteks  komunikasi termasuk komunikasi massa.

3.      Sosialisasi Nilai

Fungsi  sosialisasi  merupakan fungsi untuk mengajarkan dan  memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada  masyarakat lain.

Dengan adanya ketiga fungsi komunikasi antar budaya tersebut, komunikasi antar budaya dapat dijadikan sebagai ilmu bantu dalam mengembangkan ilmu dakwah. Dalam hal ini yang dimaksud adalah Dakwah Syu’ubiyah Qabailiyah (dakwah antar suku, budaya dan bangsa), dimana Da’i dan mad’u berbeda suku dan budaya dalam satu kesatuan bangsa atau pun berbeda bangsa. Sebagai pengembang teoritis dakwah, komunikasi antar budaya dapat menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah (fungsi pengawasan), kontrol (pengendalian) suatu fenomena yang berkaitan dengan proses kegiatan dakwah dengan harapan agar fenomena itu dapat terjadi sesuai dengan tujuan yang hendak di capai (fungsi menjembatani), serta mampu memberikan penjelasan berbagai fenomena di suatu masyarakat, agar pengembangan dan pelaksanaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien (fungsi sosialisasi nilai). 

Peranan

Komunikasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Karena dakwah adalah aktifitas berkomunikasi. Namun lebih khusus komunikasi tentang agama Islam, penyebaran Islam, dan juga anjuran baik dan buruk. Disini dakwah dan komunikasi lintas budaya diperlukan. Mengingat majemuknya budaya di Indonesia menuntut seorang da’i untuk bisa menjadi da’i yang profesional. Penggunaan metode dakwah yang benar adalah keharusan.

Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas untuk mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional. Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.

Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial.

Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat. Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar budaya. Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan dakwah baik diterima atau ditolak oleh mad’u.[6]

 

Kesimpulan

            Apabila dakwah ingin berhasil dengan efektif dan efisien adalah dengan proses transformasi nilai-nilai budaya, baik dari dalam ke luar atau sebaliknya, hal ini akan berdampak pada keterputusan atau keberlangsungan nilai-nilai budaya yang baru. Proses transformasi ini jalan tengah terhadap keberlangsungan kontinuitas budaya. Dakwah Islam menjadi tawaran dalam proses pembangunan dengan tidak mengabaikan ataupun menerima khazanah budaya lokal. Sebagaimana dalam prinsip kaidah-kaidah yurisprudensi Islam, yakni “ memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik”.

            Keserasian atau harmoni dalam masyarakat merupakan keadaan yang diidamkan setiap masyarakat. Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Dalam keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya ketentraman.

 

Refrensi

Mulyana, Deddy. 2001. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Rosdakarya Jalaludin Rachmat.

liliweri, Alo. 2007. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta.

Samovar & Porter, 1994,”A Reader”.

Tasmara, Toto. 1997. Komunikasi Dakwah, Jakarta: Gaya Media Pratama.

Shoelhi, Mohammad. 2015. Komunikasi Lintas Budaya, Bandung: Simbiosa Rektama Media.

Rusmin Tumanggor, Kholis Ridho, Nurochim. 2010. Ilmu sosial dan Budaya dasar, Jakarta; Kencana.


Review Video Pemantik

            Komunikasi merupakan proses dimana seseorang atau sekelompok orang yang disebut sebagai komunikator. Secara umum komunikasi memiliki kecenderungan menyampaikan pesan-pesan yang sifatnya lebih umum, baik tentang informasi yang sifatnya ilmiah ataupun yang lainnya. Kecenderungan umum keilmuan komunikasi pada dasarnya dilatarbelakangi oleh sifat komunikasi yang bisa masuk dalam setiap keilmuan serta kebutuhan keilmuan-keilmuan lain tersebut dengan pengetahuan komunikasi.Sehingga adanya keterkaitan komunikasi dengan dakwah yang merupakan proses atau kegiatan mengajak ( menyampaikan pesan) hanya kepada Allah penting serta aspek- aspek yang ada didalamnya penting untuk dikaji. Komunikasi dakwah adalah komunikasi yang unsur-unsurnya disesuaikan visi dan misi dakwah.

            Adapun tujuan komunikasi pada umumnya yaitu mengharapkan partisipasi dari komunikan atas ide-ide atau pesan-pesan yang disampikan oleh pihak komunikator sehingga pesan-pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan, sedangkan tujuan komunikasi dakwah yaitu mengharapkan terjadinya perubahan atau pembentukan sikap atau tingkah laku sesuai dengan ajaran agama Islam.Pelaksanaan komunikasi dakwah didasarkan pada ajaran agama Islam yaitu: alqur’an dan hadist.

            Komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seseorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan. dari segi proses komunikasi dakwah hampir sama dengan komunikasi pada umumnya, tetapi yang membedakan hanya pada cara dan tujuan yang akan dicapai.

            Baik komunikasi atau dakwah keduanya dilakukan baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam proses secara langsung komunikasi ataupun dakwah dapat dilakukan melalui dua cara yaitu verbal dan non verbal. Dalam penyampaian pesan verbal komunikasi atau dakwah itu bisa bersifat satu arah ataupun dua arah.Dalam komunikasi atau dakwah non verbal kegiatan ini bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan atau iklan-iklan yang tujuannya perubahan sikap dan tingkah laku.

            Dakwah pada umumnya yaitu penyampaian pesan dari da‟ikepada mad‟u dengan menggunakan berbagai macam media dan metode agar tercapai tujuan dakwah. Akan tetapi, yang membedakan pembahasan dakwah disini, dakwah yang berasal dari latar belakang yang berbeda misalnya perbedaan budaya antara da‟i dan mad‟u. Dakwah ini disebut dengan dakwah lintas budaya.

            Dakwah lintas budaya merupakan sebuah proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da‟i dan mad‟u.Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan bagi da‟i supaya mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi positif budaya mad‟utermasuk memperhatikan media dan metode yang dianggap bisa mendekatkan antara da‟i dan mad‟u. Perbedaan bahasa, budaya, danlingkungan tempat tinggal bisa menjadi permasalahan yang signifikan dalam proses dakwah.

            Pada dasarnya, dakwah lintas budaya merupakan cara bagaimana berdakwah dengan menggunakan budaya tersebut sebagai media dan metode sehingga dakwah bisa diterima dalam masyarakat. Setiap tempat, atau wilayah mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatan dalam berdakwahpun berbeda-beda. Dakwah dengan budaya yang berbeda menjadi perhatian khusus bagi seorang da‟i. Misalnya dalam penyampaian da‟i harus paham mad‟u yang dihadapi

            Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.Manifestasi dakwah Islam dapat dilihat dari mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kaitannya dengan kehidupan pribadi dan sosial.

            Disini keberadaan dakwah Islam senantiasa dihadapkan kepada realitas sosial yang mengitarinya. Dalam menyikapi hal tersebut, maka dakwah Islam paling tidak diharapkan berperan dalam dua arah. Pertama, mampu memberikan out put terhadap masyarakat dalam arti memberikan dasar filosofi, arah dan dorongan untuk membentuk realitas baru yang lebih baik.Kedua, dakwah Islam harus dapat mengubah visi kehidupan sosial dimana sosio kultural yang ada tidak hanya dipandang sebagai suatu kelaziman saja.

            Dakwah di sini dikhususkan dalam pembahasan dakwah lintas budaya, yaitu proses dakwah yang melibatkan pelaku dakwah atau da‟i dan objek dakwah atau mad‟u dari budaya yang berbeda. Proses dakwah yang berbeda dari latar belakang budaya antara da‟i dan mad‟u harus menjadi perhatian khusus. Seorang da‟i yang terjun di dalam masyarakat yang majemuk harus memperhatikan hal-hal yang menjadi unsur-unsur dalam berdakwah. Selain itu, pendekatan secara psikologis dirasa perlu supaya antara da‟i dan mad‟u tidak ada jarak dan bisa memahami mad‟u secara sosial emosi.

            Dasar ayat dalam dakwah lintas budaya bisa diambil dalam Al-Qur‟an surat Al-Hujurat ayat 13, yang menjelaskan bahwa Allah SWT tidak membedakan antara umat yang satu dengan yang lain. Pada hakikatnya semua umat ciptaan-Nya sama, yang membedakan hanyalah keimanan dan ketaqwaan pada Allah SWT. Dari ayat tersebut seorang da‟i bisa mengambil pelajaran, ketika berdakwah hendaknya tidak melihat mad‟u dari harkat, martabat maupun sosial budaya. Inti dari berdakwah yaitu mengajak dan mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat umum.

 

KESIMPULAN

            Komunikasi antarbudaya dalam masyarakat tidak terlepas dari upaya-upaya dakwah Islam yang pada dasarnya adalah upaya untuk mengubah seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rosul-Nya. Komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya.



[1] Dedy Mulyana, Komunikasi Antar Budaya (Bandung : Rosdakarya Jalaludin Rachmat. 2001), 99.

[2] Alo liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2007), 58.

[3] Samovar & Porter,”A Reader”, 1994,  19.

[4] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), 39.

[5] Mohammad Shoelhi, Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015), 8.

[6] Rusmin Tumanggor, Kholis Ridho,  dan Nurochim, Ilmu sosial dan Budaya dasar,(Jakarta; Kencana, 2010), 47-48.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNGAN DALAM KOTA

Dakwah Multikultural & Komunikasi Lintas Budaya