Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu Ad-Dakwah
Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu Ad-Dakwah
Disusun oleh
Risma Azzah Fatin
Abstrak : Manusia diciptakan oleh
Allah bukan hanya sebagai makhluk individu akan tetapi juga sebagai makhluk
sosial, oleh karena itu manusia tidak mungkin dapat hidup dengan seorang diri
tanpa adanya orang lain. Hal inilah yang menyebabkan seseorang perlu
berkomunikasi dengan orang lainnya. Dalam komunikasi antar budaya maka
diperlukan suatu sikap yang lebih terbuka untuk memahami budaya orang lain dan
dapat menghargainya untuk tujuan pemenuhan kebutuhan masyarakat satu dengan
yang lainnya yang berbeda-beda. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Secara sederhana komunikasi berarti membangun kontak-kontak manusia dengan menunjukkan keberadaan di rinya dan berusaha memahami kehendak, sikap dan perilaku orang lain. Komunikasi membuat cakrawala seseorang menjadi makin luas. Oleh karenanya dibutuhkan aktivitas dakwah agar
senantiasa mampu mewujudkan dakwah antar budaya saling rukun, saling
menghormati dan menghargai. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah
yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta
keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan
antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara
situasi dan kondisi dengan damai.
Keyword : Komunikasi verbal, Komunikasi non verbal, makhluk sosial, antar budaya, dakwah.
Pembahasan
A. Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Islam merupakan ajaran yang
diturunkan untuk manusia agar bersosialisasi kepada masyarakat lainnya.
Kemudian melahirkan suatu kebudayaan dalam masyarakat tersebut. Sebagai ajaran
yang dating dari Allah, Islam tidak bertentangan dengan manusia karena Allah
merupakan sumber ajaran dan pencipta manusia dan alam seisinya. Islam memandang
masyarakat sebagai komunitas social dan wahana aktualisasi amal saleh. Banyak
ayat al-Qur’an yang membahas peranan manusia di tengah manusia lain menempatkan
Islam sebagai agama yang paling manusiawi di bandingkan agama lainnya.
Masyarakat dipandang sebagai wahana
pengaktualisasian nilai-nilai ilahiah sehingga membentuk kultur agama. Sebaliknya
kultur yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut dibina dan
dikembangkan serta diwarnai oleh nilai-nilai ilahiah. Islam memiliki konsep
strategis pada masyarakat yang menjadi harapannya dan hendak diwujudkan dalam
kehidupan antar budaya. Konsep masyarakat ideal dikenal dengan istilah
masyarakat marhamah, yaitu tatanan masyarakat yang memiliki hubungan erat
antara anggota masyarakatnya berdasarkan rasa kasih dan sayang antar budaya
tersebut. Tatanan pada konsep dakwah ini berupaya membangun strategi dakwah
yang lebih ramah dan damai, hal ini merupakan ijtihad yang sangat signifikan
dengan tuntutan zaman. Meskipun dalam praktiknya pelaksanaan dakwah yang lebih
santun dan damai merupakan senjata jitu seperti yang dilakukan Rasulallah tempo
dulu. Suatu upaya yang bisa kita renungkan dan kita apresiasi terhadap perkembangan
budaya pada satu sisi dan perkembangan budaya lokal yang menjadi khasanah
kearifan dakwah karena dalam telaah dakwah antar budaya, dakwah tidak hanya
dipahami as the transfer of Islamic values atau hanya transfer nilai-nilai
Islam yang luhur kepada masyarakat di muka bumi akan tetapi dakwah Islam
hendaknya mampu mengupayakan kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya
positif secara kritis tanpa terbelenggu oleh latar belakang budaya formal suatu
masyarakat.
Untuk memahami Islam sebagai system
nilai diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang memadai perihal keyakinan dan
pandangan dasar Islam mengenai kehidupan. Tujuan utama diturunkan al-Qur’an
adalah mempengaruhi dan member pedoman bagi tingkah laku manusia. Senada dengan
itu menurut Fazlur Rahman, tidak heran kalau al-Qur’an berulang-ulang mengecam
tindakan menyembah selain Allah atau menyekutukan Allah. Empat hal utama yang
berkenaan dengan sifat Allah, terutama penciptaan, rezeki, petunjuk dan
penilaian. Penciptaan alam merupakan pagelaran kasih sayang Allah karena alam
semesta tidak mungkin ada dengan sendirinya. Tanpa kasih sayang Allah alam
semesta hanyalah kehampaan murni tanpa keanekaragaman makhluk di dalamnya. Keberadaan
manusia di muka bumi juga membuktikan terwujudnya kehidupan dimana manusia juga
membutuhkan interaksi sesama manusia untuk membangun peradaban antar budaya.
Untuk kelangsungan budaya yang dibangun manusia pada saat kelangsungan hidupnya
membutuhkan bangunan yang dinamakan dakwah antar budaya, dengan begitu
kehidupan manusia di muka bumi akan menjadi lebih harmonis dan sejahtera.
Untuk mewariskan budaya tersebut, proses dakwah dilakukan melalui tiga upaya yang saling kait mengait, yaitu: (1) pembiasaan (habit formation), (2) proses dakwah dan nasihat baik, dan (3) keteladanan (role model). Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer), dan dia akan mewariskan kebudayaan tersebut kepada keturunannya. Proses dakwah tidak lain merupakan proses transformasi nilai-nilai sosial budaya, yakni proses untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda. Pengertian berdakwah jauh lebih luas dari pengertian nasehat. Proses dakwah bukan hanya sebagai pengalihan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat dakwah tetapi juga pengalihan nilai-nilai sosial dan budaya (transmission of social and culture values and norms). Untuk memperdalam pemahaman dan peradaban tentang hal ini, cobalah buat tabel yang membedakan antara keduanya. Perbedaan latar belakang budaya, seringkali menjadi kendala dalam proses dakwah antar budaya.
B. Komunikasi Sebagai Proses Dakwah
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan non verbal. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Secara sederhana komunikasi berarti membangun kontak-kontak manusia dengan menunjukkan keberadaan di rinya dan berusaha memahami kehendak, sikap dan perilaku orang lain. Komunikasi membuat cakrawala seseorang menjadi makin luas
Komunikasi verbal dalam Komunikasi Antarbudaya
Simbol atau pesan verbal adalah Semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir Semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara sabar. Suatu sistem kode verbal disebut bahasa. Bahasa dapat didefisinikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Konsekuensinya, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diawali kata-kata itu
Komunikasi nonverbal dalam Komunikasi Antarbudaya
Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non verbalnya. Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang iia katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Secara sederhana pesan nonverbal adalah Semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A SaMovar dan Richard E porter, komunikasi nonverbal mencakup Semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang memiliki nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima. Sebagaimana kata-kata, kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya.
Komunikasi Dakwah Efektif
Berbicara mengenai komunikasi berarti kita pun akan berbicara mengenai bahasa. Hal ini dikarenakan komunikasi dan bahasa merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan (bersifat komplementer). Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa bahasa merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia yang terpenting dalam peradabannya.
Komunikasi dakwah menjadi efektif jika materi dakwah disampaikan oleh penceramah atau dā’i, sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti sepenuhnya oleh audience atau mustami’. Dalam komunikasi tersebut harus ada suatu ketetapan pikiran oleh kedua belah pihak apalagi komunikasi efektif tersebut berhubungan dengan dunia dakwah.
Komunikasi dakwah efektif sangat signifikan bagi penceramah atau dā’i dalam menyampaikan materi dakwah yang akan disampaikan. Dengan demikian audience atau mustami’tidak salah paham terhadap materi dan bisa memahami esensi dari dakwah itu sendiri. Artinya ada kesesuaian pikiran antara penceramah atau dā’i dengan audience atau mustami’itu sendiri.
Sebagai makhluk yang berbudaya, maka misi dakwah melalui pendekatan komunikasi dakwahnya manusia selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari, semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain. Kekuatan nilai-nilai komunikasi dakwah maupun segala sumber daya budaya yang ada akan membentuk dan mempengaruhi pula tingkah laku. Oleh karena setiap individu memiliki lingkungan sosial antar budaya yang saling berbeda dengan yang lain, maka situasi ini menghasilkan karakter sosial budaya setiap individu bersifat unik, khusus, dan berbeda dengan orang lain dan itu yang kita sebut komunikasi dalam perspektif dakwah antar budaya, meskipun berasal dari keluarga yang sama, karakter seseorang tidaklah sama persis dengan anggota keluarga lainnya karena lingkungan budayanya tidak terbatas pada keluarga, melainkan mencakup teman sebaya, masyarakat, sekolah, media massa, dan sebagainya. Para ahli antropologi memiliki kesamaan pendapat mengenai tiga karakteristik budaya: Pertama, budaya bukan pembawaan sejak lahir melainkan dipelajari. Kedua, berbagai bentuk budaya saling berhubungan kalau salah satu aspek budaya tersentuh, yang lain ikut berpengaruh. Ketiga, dimiliki bersama oleh anggota kelompok dan menjadi pembatas antara kelompok yang berbeda.
Kesimpulan
dakwah antar budaya dalam kehidupan masyarakat sedikitnya memiliki tiga kategori yang harus kita perhatikan yakni adanya wujud budaya sebagai suatu ide, gagasan, nilai dan peraturan. Wujud yang lain adalah adanya suatu wujud kompleks aktivitas kelakuan yang berpola dari manusia dan masyarakat. Dengan demikian metode dakwah dengan pendekatan dakwah antar budaya mampu mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar budaya orang lain dan dengan pendekatan antar budaya ini sebagai salah satu watak dasar Islam sebagai agama perdamaian.
Dalam konteks dakwah, tentunya diperlukan kecakapan khusus bagi seorang penceramah atau dā’i agar bisa berkomunikasi secara efektif. Komunikasi efektif sangat terkait dengan optimalisasi waktu dalam memberikan pesan, sehingga informasi yang disampaikan ataupun yang diterima tepat sesuai sasaran dan memberikan pemahaman makna yang mendalam.
Refrensi
Aang Ridwan, 2013, Filsafat
Komunikasi, Bandung, Pustaka Setia
Basit Abdul, 2005, Wacana dakwah
Kontemporer, Yogyakarta: STAIN Purwokerto & Pustaka Pelajar.
Deddy Mulyana, 2009, Komunikasi
Antar Budaya, Bandung, Remaja Rosda Karya.
Moh. Ali Aziz, 2004, Ilmu Dakwah,
Jakarta, PT. Kencana.
Suranto, 2010, Komunikasi Antar
Budaya, Yogyakarta, Graha Ilmu.
Samsul Munir Amin, 2009, Ilmu Dakwah, Jakarta, AMZAH.
Komentar
Posting Komentar