HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKUTURAL MODERN

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern.

Disusun oleh : Risma Azzah Fatin

Nim : B01219048

Abstrak

Komunikasi lintas budaya merupakan proses interaksi antara dua kelompok yang berbeda budaya. Perbedaan itu meliputi perbedaan ideologi, sistem nilai, pengalaman organisasi sosial, dan sejarah. Berdakwah pada masyarakat Indonesia yang sangat multikultural, sangat dibutuhkan kebijakan seorang da’I di dalam menyampaikan pesan dakwah apalagi yang diiringi dengan pemanfaatan media sosial untuk berdakwah supaya tidak menjadi pemicu atau yang melahirkan konflik baru.

Kata Kunci : Hambatan Komunikasi Lintas Budaya, Hambatan Dakwah Multikultural, Tantangan Di era Modern.

Pembahasan

A.    Faktor Penghambat Komunikasi Antarbudaya

Banyak faktor penghambat dalam komunikasi lintas budaya yang telah dikemukakan oleh para ahli, di antaranya seperti berikut ini (Barna, 1994):

1.      Andaian Kesamaan

Kesalahpahaman dapat muncul karena kita sering berpikir bahwa ada kesamaan di antara setiap manusia di seluruh dunia yang dapat membuat proses berkomunikasi menjadi mudah. Padahal kenyataannya, bentuk-bentuk adaptasi terhadap kebutuhan baik biologis maupun sosial serta nilai-nilai, kepercayaan, dan sikap di sekeliling kita adalah sangat berbeda antara budaya satu dengan yang lain.

2.      Perbedaan Bahasa

Permasalahan dalam penggunaan bahasa adalah apabila seseorang hanya memperhatikan satu makna saja dari satu kata atau frasa yang ada pada bahasa baru, tanpa mempedulikan konotasi atau konteksnya.

3.      Kesalahan Interpretasi Non Verbal

Orang-orang dari budaya yang berbeda mendiami realitas sensori yang berbeda pula. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan hanya pada apa yang dianggap bermakna bagi mereka.

4.      Stereotip dan Prasangka

Stereotip merupakan penghalang dalam komunikasi sebab dapat mempengaruhi cara pandang yang objektif terhadap suatu stimulus. Stereotip muncul karena ia telah ditanamkan dengan kuat sebagai mitos atau kebenaran sejati oleh kebudayaan seseorang dan terkadang merasionalkan prasangka.

5.      Kecenderungan untuk menghakimi atau menilai

Faktor penghalang lainnya untuk memahami orang-orang yang berbeda budaya adalah kecenderungan untuk menghakimi, untuk menerima, atau menolak pernyataan dan tindakan dari orang atau kelompok lain, sebelum memahami pikiran dan perasaan yang disampaikan oleh orang itu sesuai sudut pandangnya.

6.      Kecemasan Tinggi

Untuk dapat disebutkan sebagai orang yang cakap atau kompeten dalam berkomunikasi antarbudaya, seseorang harus mampu mengatasi berbagai masalah yang ada, termasuk rasa khawatir atau cemas ketika berinteraksi dengan individu dari budaya yang berbeda.

B.     Hambatan dalam dakwah multikultural

Kegiatan dakwah di Indonesia masih menghadapi kendala. Dakwah yang dilakukan oleh perorangan maupun secara kelembagaan, masih menampakkan egoisme pribadi dan kelompok. Dengan mengatasnamakan kebenaran dan agama, mereka melakukan penyerangan terhadap kelompok atau jamaah lain. Problem dakwah yang cukup penting lainnya adalah Menyangkut perbedaan paham yang sering membuat hubungan Sosial antarpemeluk agama terganggu, bahkan dalam taraf tertentu Bisa menimbulkan kerawanan sosial. Problem perbedaan ini tidak Hanya terjadi dalam internal Islam saja, melainkan juga dalam Tataran kehidupan antarumat beragama. Berbagai kasus ketegangan Seperti di atas adalah fakta yang tidak terbantahkan. Jika kondisi seperti ini dibiarkan, maka kedamaian, keadilan, dan ketenangan akan sulit bisa terwujud. Pada akhirnya Islam yang rahmatan lil alamin hanya ada dalam konsep dan tidak akan terlahir dalam kenyataan di Indonesia yang multikultur ini.

Faktor lain yang menjadi penentu keberhasilan dakwah Islam di Nusantara pada awalnya adalah penggunaan seni, adat istiadat, dan tradisi kebudayaan setempat. Dalam hal ini, A.H. Johns menegaskan, kecenderungan para da’i sufi yang menggunakan unsur-unsur setempat merupakan salah satu faktor keunggulan metode dakwah yang telah dikembangkan.

Pendekatan persuasif dengan menghargai nilai budaya, dan adat istiadat menjadi faktor penentu keberhasilan dakwah; bukan cara memaksa, menakut nakuti dan intimidasi yang tidak sesuai dengan semangat Islam sebagai agama damai. Dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya plural, model pendekatan dakwah para da’i pendahulu yang telah berhasil menyebarkan Islam di Nusantara perlu tetap dipelihara dan dikembangkan, sehingga nilai-nilai Islam bisa tetap hidup dan menjiwai kehidupan masyarakat.

C.     Tantangan Dakwah di Era Modern

Semula, dakwah yang lebih banyak bersentuhan dengan ranah ibadah, selalu dilandasi dengan niat dan motivasi untuk beribadah pula, yakni dilaksanakan dengan penuh suka cita, hati yang ikhlas dan hanya mengharap ridla Allah Swt semata. Namun, dalam perkembangannya pola berdakwah melalui media sebagai wujud kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi tersendiri bagi seseorang da’i. Pengaruh media, memungkinkan seorang da’i memperoleh popularitas dimata pemirsanya seperti layaknya

Seiring dengan kemajuan teknologi, sehingga cara berdakwah pun sekarang mengalami perkembangan. Dakwah tidak lagi dilakukan secara sederhana tdak hanya sebatas diatas mimbar, di masjid-masjid atau mushala tetapi mulai memanfaatkan kemajuan media teknologi . Hal ini dilakukan agar dakwah lebih meluas dan agar dakwah bisa dilakukan lebih efektif. Dakwah bisa dilakukan melalui media massa dan diterima oleh orang banyak. Karena sifatnya massal maka penerima pesan dakwah tidak hanya dikalangan tertentu saja. Kalangan yang dijangkau bisa luas begitu pula dampak yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, kini berdakwah mempunyai tantangan sendiri.

Tantangan dakwah beraneka ragam bentuknya, selama ini kita mengenal dalam bentuk klasik, bisa pada penolakan, cibiran, cacian ataupun terror bahkan fitnah banyak para da’I mampu mengatasi tantangan atau rintangan tersebut dengan baik baik karena niatnya memang telah kuat sebagai pejuang. Meski demikian, ada pula yang tidak mampu untuk mengatasinya sehingga tersingkir dari kancah dakwah.

Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi.

Problematika yang dihadapi para aktivitas dakwah di medan dakwah terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Di sini akan kami diungkapkan beberapa hal yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan kendala yang bersifat internal, yaitu gejolak kejiwaan, ketidak seimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri.

 

Kesimpulan

Dalam dakwah yang dilakukan untuk membimbing umat. Aktivitas Dakwah pada era sekarang dituntut melakukan upaya-upaya dan pendekatan-pendekatan Dakwah yang lebih bisa mengayomi dan mempertimbangkan budaya-budaya masyarakat dan Berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses, seharusnya Dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual dan terus-menerus dan terus meningkatkan pendekatan-pendekatan yang lebih ramah tanpa mengubah Maksud dan tujuan dakwah Penanaman pemahaman tentang multikultural bertujuan untuk menghilangkan prasangka, menimbulkan dialog, mengenal perbedaan sehingga timbul rasa saling menghargai dan mengapresiasi. Dari sini diharapkan akan muncul modal kultural suatu bangsa karena bangsa yang kehilangan modal kultural akan sangat rawan perpecahan. penanaman pemahaman multikultural menjadi sangat strategis untuk dapat mengelola kemajemukan secara kreatif, sehingga konflik yang muncul sebagai dampak dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa ke depan.

Refrensi

Effendi, Muchsin. Psikologi Dakwah, Jakarta: Prenada Setia, 2006.

Ma’arif, Bambang S. Komunikasi Dakwah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

Moulita. (2015). Kecekapan komunikasi antara budaya mahasiswa Indonesia dan Malaysia: satu kajian kes. Tesis master tidak diterbitkan, Universiti Sains Malaysia, Malaysia.

Muhyiddin, Asep. Metode Pengembangan Dakwah, Malaysia Pustaka Setia, 2002.

Sumbullah, Umi. Islam Radikal dan Pluralisme Agama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama, 2010.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUNUNGAN DALAM KOTA

Dakwah Multikultural & Komunikasi Lintas Budaya